Tuesday, April 5, 2016

BUKAN CERPEN : Masih Akan Berlanjutkah ?

GA PERLU DI BACA. CUMA YANG MENGALAMI YANG NGERTI :")

Mengenalnya mungkin adalah hal yang sama sekali tidak pernah kubayangkan akan terjadi sebelumnya. Berjabat tangan dan mendengar alunan merdu suaranya dari jarak yang begitu dekat adalah kejadian luar biasa yang aku percaya bukanlah suatu kebetulan.
Aku percaya tidak ada yang namanya kebetulan, apalagi sampai sejauh ini.
Aku percaya pertemuan ini ada alasannya. 

Ketika mata ini terpejam dan pikiran melayang kembali ke masa itu, aku masih mengingat jelas, lengkap, bahkan tanpa satu pun terlewatkan. Pandangan matanya, baju yang ia kenakan, senyum di bibirnya, posisi ia berdiri, cara ia berbicara. Kenapa memori itu ada ? 
Karena hati berkata untuk jangan menghapusnya. 

**)
Merah. Awal sekali adalah merah. Berdiri di paling ujung barisan, di depan ratusan orang muda, dengan mic di tangan kanan menempel di bawah bibir. Saat itu, aku hanya memandangnya dari kejauhan. Saat itu hanya nama, hanya wajah, ya hanya sekedar itu. Awal yang aku anggap seperti angin berlalu, awal yang aku anggap hanyalah kebetulan. Lama sejak saat itu, bahkan di kegiatan berikutnya, dia yang kuanggap hanyalah sebuah kebetulan akhirnya tak kunjung datang, tak kunjung menampakkan wajah. Meyakinkan diri, bahwa memang kemarin itu adalah sebuah kebetulan. 

Berikutnya dia datang. Saat itu hitam. Tapi anehnya bukan ke arah dia sorot mata ini mengarah. Saat itu aku hanya merasakan hal yang sama seperti sebelumnya. Kebetulan yang kedua. "Kamu aja gimana?" Asing sekali rasanya, memang. Tapi tersadar, itu kalimat pertama mungkin. Kalimat asing. Masih belum ada rasa saat itu, masih menganggap semuanya akan berakhir sebentar lagi, jadi hanya kagum, terpendam begitu dalam. 
Selanjutnya pun masih hitam. Tapi berbeda. Sorot mata ini berbeda dari sebelumnya. "Itu dia kan?" Mata ini langsung mengenalinya sesaat setelah aku melihat pasukannya. Apa ini masih bisa disebut kebetulan ? Kebetulan yang ketiga ? Kurasa tidak. Melihatnya mengetik perlahan dengan laptop di hadapannya sambil sesekali terlihat bingung dengan proses yang berjalan entah ke arah mana. Sadar bahwa hari itu aku melihatnya sembari tersenyum. Sejak pertemuan itu, aku yakin akan ada hari esok, akan ada saat dimana pertemuan akan kembali. Dan sejak saat itu, mulailah penantian menyapa. Menyapa setiap paginya sejalan dengan tanggal demi tanggal berganti, bulan demi bulan bergulir. Lama rasanya mengikuti detik jam berputar. Hingga.......

Pertemuan yang keempat ? Iya. Cerita dimulai disini. Kisah dan kenangan. 
Berawal dari langkah kaki menuruni bus. Sapaan mengalir begitu saja, seperti teman yang sudah lama kenal. Tapi tidak demikian sebenarnya. Entah kenapa, bukan hanya saat itu tapi setiap saat waktu bergulir begitu cepat ketika bahagia menyapa, bahkan sampai-sampai tidak sempat untuk menarik nafas dan memikirkan ulang kejadian yang terjadi sedetik sebelum. Malam datang bersama kuning, duduk di sebelah tanpa aba-aba dengan tawa menggelegar menyaksikan pentas di panggung sana. Tangan ini pun tak kuasa untuk diam. Senyum pun seakan tak ingin berhenti menampakkan diri. Hanya saja saat itu ada ganjalan di hati. Belum sepenuhnya yakin. Aku ibaratkan Rain saat itu, yang masih begitu menyayangi seorang Gweny padahal hatinya ada untuk Dimas (Magic Hour). Ibaratnya aku masih harus berbagi, ibaratnya ini semua belum milikku. Akan tetapi, saat ungu, sarung, kemeja lengan panjang, dan ikat kepala itu tergambar jelas di mesin potret, aku merasa akan ada cerita baru di hari esok. Kisah ini akan berlanjut, dengan batu sandungan lain yang pasti akan bisa dilewatkan. 

Bagian ini mungkin cukup memalukan. Aku ingat bagaimana heboh dan sibuknya aku saat satu minggu sebelum menghadapi pertemuan kelima. 59 hari lamanya. Lama ? Sebenarnya iya. Berbeda banget dari yang sebelum-sebelumnya. Aku yang dulu bahkan tidak ada harapan sedikit pun untuk berjumpa, apalagi bertegur sapa dan menjalin cerita. Aneh, bagaimana pertemuan bisa membawa cerita bagi seseorang sampai sejauh ini. Waktu itu, kotak-kotak merah. 59 hari yang lewat terbayarkan hanya dengan satu jam setengah. Suasana berbeda. Kegiatan berbeda. Pertemuan yang sebenarnya tidak terduga. Aku ingat rasa pertama yang datang saat dirinya keluar lewat pintu kaca hitam di belakang. Deg. Sejak hari itu berulang kali kalimat ini selalu terbayang "Aku masih ga nyangka". Bersama si biru melewati hitam putih ramainya kotaku. Tanpa arah, dengan kesombongan bak tahu segalanya mengarungi mata angin yang berlawanan arah dari tujuan, hingga akhirnya tertawa saat tujuan hanyalah seratus meter dari tempat berdiri semula. Ketika kosong menyapa dan waktu terus mengejar, keputusan yang diambil pun masih membawaku melayang, meyakinkan diri bahwa itu benar terjadi. Melihat kedua tangannya lincah bermain seperti anak kecil dengan jarak tidak sampai satu meter di depanku. Melihatnya berbicara dengan orang lain diseberang sana sambil sesekali tersenyum melirik. Melihat ke 'sok' polosannya berkata bahwa dia tidak bisa, padahal begitu pandai melebihiku. Aku sempat bingung dengan apa yang didepanku saat itu. Menerawang ke arah lain dan berpikir. Kok bisa ya ini terjadi?

Tanpa memori nyata setelah pertemuan kelima, tapi aku begitu sulit berkata dengan 52 hari setelahnya. Hampir 20 jam bersama abu-abu, putih, dan kotak-kotak biru. Awal yang biasa sebenarnya. Hanya saja penutup yang tak terduga. Diguyur air dari alam bersama derapan langkah puluhan ciptaan Tuhan lainnya. Merasakan sakit dan bahagia bersamaan. Ketika mata terpejam, ketika otak berpikir sudah tak sanggup lagi, ada semangat yang datang saat itu. Mana bisa aku berhenti disini. Perjalanan masih panjang. Datang pergi datang pergi tak kunjung henti. Perginya pun tetap datang. Ah, kalimat yang aneh. Hanya aku yang bisa merasakan maknanya. Ketika semangat serasa milik diri ini. Ketika dirinya bahkan kurasakan selalu ada. Ada rasa putus asa sepasukan manusia saat itu, tapi ada senyum yang bodohnya dari diriku, merasa bahwa waktu ini diberikan Tuhan untuk aku kenang, untuk aku rasakan lebih lama. Dari hal sederhana seperti kunci, air minum, bangku sebelah, kemeja kotak-kotak yang tersampir tidak pada tempatnya sebenarnya, aku merasakan rasa baru. Bolehkah rasa ini muncul ? Kutanya pada langit malam saat perjalanan pulang hari itu, boleh tidaknya belakangan, yang pasti rasa ini ADA. 

Aku menuliskan kisah ini baru tiga hari sejak hitam kembali datang di 60 hari berikutnya. Setengah dari penantian ini sebenarnya putus asa menyergap. Berpikir bahwa 149 hari akan sia-sia saja. Ke tujuh ini hanya biasa saja sebenarnya. Sibuk begitu parah membuat semuanya berlalu sedemikian rupa, hanya potret kecil dengan kondisi sangat tidak siap yang ada untuk mengingatkan pertemuan ke tujuh ini. 

Kisah ini baru bisa kuketikkan sekarang. 
Mengapa ? 
Karena saat ini aku tersadar. 
Setelah ke tujuh ini belum ada rencana apapun. 
Belum ada kepastian untuk membalas penantian. 
Bertanya dalam hati, 
kisah ini..... 

Masih Akan Berlanjutkah ? 

Tertanda, lima april dua ribu enam belas. 
Dengan harapan untuk berjumpa lagi, di kemudian hari :) 




Tuesday, March 15, 2016

Mystory : Dalam Nama-Mu

Beribu pasang mata
Termasuk milik sang cahaya kesempurnaan
Memandang lurus ke arah yang sama
Ke atas Tahta Kemuliaan
Dalam dekapan Roh Kudus yang mulia

Hari ini aku bersujud
Bersanding dengan ratusan makhluk ciptaan-Nya
Yang percaya kepada-Nya
Yang tunduk dan taat pada perintah-Nya

Tak satu nama yang ku kenal
Tak satu wajah yang pernah ku lihat
Tapi aku tahu
Nama yang tak ku kenal
Dan wajah tak pernah ku lihat itu
Adalah keluargaku
Keluarga dalam Tuhanku yang satu

Perjumpaan dan perpisahan
Bukan
Jumpa dan salam temu yang ku tahu
Raga memang bisa jauh
Tapi ada cinta kasih di dalam jiwa
Yang mendekatkan setiap perjumpaan
Tanpa ada perpisahan

Atas cahaya kesempurnaan yang hadir
Aku bersyukur kepada-Mu
Atas ratusan cinta kasih yang Kau pertemukan
Aku bersyukur kepada-Mu
Merajalela-lah Engkau, Tuhanku
Kumpulkan kami semua dalam dekapanmu
Hati ini satu, dalam nama-Mu yang kudus

Tuesday, February 16, 2016

Mystory : Sang Rintik Hujan

Rintik hujan membasahi tanah
Aroma yang khas tersebar meluas
Merasuk dan mengalirkan sejumput pikiran
Memutar pegas di otak untuk kembali
Kembali ke kenangan waktu itu

Kau sempat membawaku melambung
Tinggi nan jauh ke sudut langit biru
Tapi
Kau juga yang mendorongku
Ke lubang gelap sempit tak berlentera

Angin berhembus
Pikiranku menapak
Terenyak dengan pikiran sedetik sebelum
Apa yang terjadi kemudian ?
Apa rajutan kisah yang ada sekarang ?
Masih samakah ?
Kurasa iya
Tapi pandanganku yang tak lagi sama.

Di langit memang kurasakan sejuta cinta
Cinta yang begitu indah
Tergores begitu dalam di relung hati
Tapi
Cinta yang sama terukir juga di kegelapan
Dalam jarak dan waktu
Walau sempit tak berlentera

Menunggu memang tak mudah
Menanti dalam ketidakpastian apalagi
Tapi aku yakin,
Kenangan yang ada bukan Tuhan berikan
hanya untuk dilupakan
Ada rasa, ada cinta, dan ada kisah
Sesuatu yang berharga

Ketika buku usang ini bisa kuraih lagi
Dan aku masih diombang-ambing keadaan
Aku siap
Aku berusaha untuk sabar
Karena tak ada bahagia tanpa usaha
Karena cinta ini tak pernah akan padam rasanya

Kepada rintik hujan kusampaikan salam hangat
Kirimkan padanya di seberang sana
Biar ia merasakan
Hangat cinta yang kukirimkan padanya
Sekaligus dingin menusuk dari engkau,
Sang Rintik Hujan....



Monday, February 8, 2016

Mystory : Jangan Biarkan Aku Jatuh Cinta

Selamat malam sang rembulan
Selamat datang kegelapan malam
Aku disini masih tetap terkagum memandang ke langit luas
Di hamparan kegelapan bertabur bintang
Betapa kecilnya aku dibanding luasnya lautan langit.
Begitu pula kamu.
Aku kagum sekaligus heran...
Apa rencana semesta atas kita berdua ?
Mengapa dibalik semua kisah,
dan dibalik semua cerita
ada terselip namamu ?
Mengapa semesta berkehendak dan kita bertemu ?
Kepada langit malam
Kukatakan dengan jujur
Aku tersenyum gembira mengenalmu....

Andai hari itu tiada
Andai kaki ini tak menginjakkan tanah
tempat dimana kau berpijak pula
Aku yakin tak akan ada rasa, apalagi cinta.
Andai mata ini menyorotkan sinar ke hal lain
Andai mata ini tak tertuju
pada wajah dibalik mesin potret itu
Aku yakin tak akan ada rasa, apalagi cinta.

Di keheningan malam,
dan ditengah hembusan napas
Aku berkata dalam hati,
Aku bahagia disini
Bahagia dalam ketidakpastian yang indah.

Selama senyum masih ada di bibir ini,
Selama malam masih tetap berganti
ditemani wajah manis di balik kaos putih
Aku berjanji,
Takkan kuperbolehkan rasa apapun menghinggapi

Aku nyaman, aku bahagia
Dan aku lega...
Tuhan, tetaplah kau jaga indahnya keadaan ini.
Jangan Kau gantikan dengan hal duniawi yang belum pasti.
Rasa ingin yang ada di hati
Biarlah ia pergi, jika memang tak pantas disini

Rembulan,
Katakan pada sang fajar,
Apa yang kurasa dan kuingat malam ini.
Biar ia tahu rasa yang aku pendam setiap malamnya.
Biar aku ingat akan janji yang aku katakan.
Tapi katakan juga pada Tuhan,
ada terselip doa kecil untuknya,
bahagiakan dia disana
dan...
jangan biarkan aku jatuh cinta
padanya.

Thursday, December 3, 2015

We Are Young, OMK Cubengtuling Ketemu ♥

Halo halo halo ! Hai hai hai !
Udah 5 bulan ini blogku melempem ga ada isi :') yaa mau gimana lagi ga ada ide, ga ada yang mau diceritain juga. Tapi untungnya, setelah 5 bulan akhirnya ada juga bahan untuk diceritain dan dibagikan disini :)
Oke postingan aku kali ini mungkin kalian udah pada tau yaa mau ceritain tentang apa. Tapi pasti juga banyak yang masih tanda tanya pas ngeliat judul postingan ini. 
Jadi begini ......
....
....
Tema postingan kali ini ialah :"OMK CUBENGTULING KETEMU" 
(tett terrreett tett terttt,,, jzzzz, bak dum tsss.....) ((pura-puranya ada back sound gitu, haha))

Apa sih OMK CUBENGTULING KETEMU itu ? 
Biar kujelaskan satu persatu (ehem). OMK itu singkatan dari Orang Muda Katholik, tapi ada juga yang bilang kalo OMK itu Organisasi Muda Katholik. Ya pokoknya gitu deh. Intinya, OMK itu kumpulan anak-anak muda Katholik yang biasanya belum pada nikah dan udah lewat bangku SMP, jadi sekitar umur 16-30 tahun laaa.. 
Tapi kalo ada orang diatas 30 tahun belum nikah itu masih boleh disebut OMK ?
Masih kok, hahaha...  
Kalo dia 30 tahun dan belum nikah, artinya dia masih "muda" kan ? haha
Contohnya romo-romo yang tergabung di OMK ini juga masih bisa disebut muda, soalnya mereka kan belum nikah (dan ga bakalan nikah juga sih.. hehe)  

Terus kalo Cubengtuling Ketemu itu artinya apa ?
Nah, Katholik itu kan luas kan yaaa.. So pasti OMK nya juga tersebar ramai di seluruh Indonesia (acikiwir). Jadi, OMK di daerah kami ini (Sumatera Selatan) di bawah Keuskupan Agung Palembang (KAPal) ada 3 dekanat totalnya. Nah, Lubuklinggau itu tergabung di dekanat barat (dekanat 3) yang lebih tepatnya lagi di distrik Cubengtuling Ketemu. Di dekanat 3 itu sendiri ada distrik Sijambu, Tahata, dan Cubengtuling-Ketemu. (agak njelimet yak? haha)
Kalo Sijambu itu singkatan dari Singkut, Jambi, dan Muara Bungo. Jadi yang masuk di OMK Sijambu itu yaa anggotanya anak-anak OMK Singkut, OMK Jambi, dan OMK Bungo. Kalo Tahata itu, singkatan dari Tanjung Sakti, Lahat, dan Tanjung Enim.
Lalu, kalo Cubengtuling Ketemu itu singkatan dari Curup, Bengkulu, Tugumulyo, Lubuklinggau, Ketahun, dan Muko-Muko ~~~ widih rame yak :D :D :D
Iya dari yang kudenger sih emang Cubengtuling Ketemu ini OMK paling rame, paling seru kalo ngumpul, dan paling beringas juga (apaan sih beringas, hahaha) Ga deh bercanda :p
Tapi diantara Cubengtuling Ketemu, yang menjadi paroki utama itu Cubengtuling-nya, sedangkan Ketahun dan Muko-Muko itu emang paroki sendiri, tapi juga bagian dari Bengkulu gitu dan jumlah anggotanya emang ga serame paroki utama. Jadi ya gitu. Iya gitu. Udah.

Sunday, May 17, 2015

Who is she ?

Bulu kudukku berdiri, tubuhku seketika merinding. Aku menoleh ke belakang.
"Ada apa, Ri ?"
"Rasanya kayak ada yang ngikutin kita deh, Nes !"
Saat itu aku tengah berjalan beriringan dengan Vanessa, teman sekelas sekaligus tetanggaku. Aku melihat tak seorang pun berjalan di belakang kami, bahkan suara angin pun hampir terdengar jelas di telinga saking sepinya jalanan itu. Perumahan yang kami tempati ini memang termasuk kumuh dan sepi. Jarang ada orang yang mau tinggal disini, kecuali keluargaku, dan mungkin juga keluarga Vanessa. Satu-satunya alasan mengapa keluargaku tetap bertahan di Perumahan Kebon Anyer ini karena rumahku yang sekarang ini katanya adalah peninggalan dari nenek moyang kakekku dulu. Banyak barang dirumahku yang tak terurus, banyak barang dirumahku yang bahkan tak boleh aku sentuh sama sekali.
"Serius lo Ri? Asem mistis banget sih omongan lo !"
"Entahlah Nes, mungkin cuma perasaan gue aja kali.. " aku melemparkan senyum kepada sahabatku itu. Aku tahu betul ia sedang ketakutan sekarang. Vanessa memang tipe cewek yang gak doyan horror, bertolak belakang sekali denganku. 
Kami pun berpisah jalan di pertigaan, aku belok kanan dan Nessa belok kiri. Walaupun kumuh bahkan angker, perumahan ini termasuk cukup luas di daerahku ini. Ada blok A sampai blok O. Jalanan utama yang kami lewati tadi adalah deretan rumah dari blok A sampai E, deretan rumahku adalah blok F sampai J, dan deretan rumah Nessa adalah blok sisanya. Aku tinggal tepatnya di blok H dan Nessa di blok M.
Aku memasukkan kedua tanganku ke saku jaket yang kukenakan. Sekarang aku berjalan sendiri. Dan aku merasakan lagi. Aku merasakan ada orang yang mengikutiku, langsung saja kupercepat langkah kakiku bahkan secara tidak sadar napasku hampir ngos-ngosan. Aku pun sampai di depan rumah bertingkat tiga dengan pagar yang tinggi menjulang, ya rumahku. Aku membuka pagarnya dan terdengarlah bunyi khas pagar tua yang memekakkan telinga. Pintu depan rumahku selalu terkunci rapat, baru dibuka mungkin sekali dalam setahun. Aku pun masuk ke rumah lewat pintu belakang sehingga aku mengitari rumahku yang luas itu.
"Kok tumben cepet pulangnya?"
"Ada rapat guru, ma." jawabku seraya melepas sepatu dan melempar asal tas sekolahku.
Tercium aroma sedap dari dapur. Gulai ayam, pikirku. Perut yang kosong dan otak yang terlampau lelah berkat materi-materi dahsyat dari Pak Andre membuatku langsung mengambil posisi di meja belakang siap menyantap gulai ayam lezat khas Nyonya Andini, mamaku. 
"Ganti baju dulu sana Ri. Pulang-pulang kok langsung nangkring di meja makan.."
"Ihhh si mama, kayak baru kenal Riri seminggu aja. Riri mana pernah ganti baju kalo pulang sekolah. Nanti ganti bajunya pas mandi sore aja. Sekalian hemat air dan ga nyusain Mbak Tari nyuciin baju Riri" cerocosku tak sabar sambil meraih piring, sendok plus garpunya.
Aku pun mencedok nasi dari rice cooker secukupnya lalu menyodorkan piring itu ke mama. Mama pun meraih piringku dan dengan cekatan mengisi penuh piringku dengan gulai ayam kesukaanku. Eit, bukan karena aku menyuruh mamaku mengambilkan gulai ayam untukku lalu kalian berpikir aku adalah anak manja. Faktor terbesarnya hanyalah karena posisi gulai ayam itu dekat dengan posisi mamaku duduk. Sudahlah, itu bukan hal yang penting.
"Mama gak sekalian makan bareng Riri aja?" tanyaku sambil menyuapkan suapan besar ke mulut.
"Mama udah makan duluan tadi, mama temenin kamu aja disini." 
"Emmmm, enak banget gulai nya hari ini. Pake resep baru yah maa ?" ujarku tak berbohong. 
Memang gulai ayam hari ini terasa lebih enak dari biasa-biasanya. Tapi, mungkin tidak.. Apa mungkin perutku yang begitu lapar membuat gulai ini terasa begitu enak hari ini ? Atau karena perasaanku yang kurang enak saat pulang tadi yang membuat gulai ini jadi enak ? Pikiranku melayang mengingat kejadian tadi ...... 
Plak ! Mama menepuk tangannya tepat di depan mukaku yang sedang terlihat jelas sedang melamunkan sesuatu.
"Sebegitu enaknya ya gulai mama sampe kamu bengong gitu, hah ? " ujar mama seraya menggodaku.
"Iyah maaaa, enakkkk banget, Riri hampir pingsan tau gak !" jawabku hiperbola banget.
"Oh ya Ri, mama denger kelas kamu ada kedatangan murid baru ya ? "
Aku seketika stop menyuapkan nasi ke mulutku dan agak heran dengan pertanyaan mama itu.
"Murid baru ? Murid baru mana ya ? Gak ada tuh..."
"Oh ternyata belum ya,..." ujar mama seraya mengalihkan pandangan ke sekeliling dapur.
Aku kembali heran untuk kedua kalinya dengan jawaban mama itu. "Maksudnya? Belum apa ma?"
"Ehh, gak ada kok. Udah lanjutin aja makannya." Aku melihat mama menjawab dengan agak gugup. Ia pun beranjak dari tempat duduknya.
"Loh mau kemana ma ? Katanya mau nemenin Riri makan.."
"Mama lupa ada urusan kantor bentar. Mama harus nelpon klien dulu, mama ke kamar yaa."
Tanpa sempat bertanya lagi, mama pun pergi meninggalkanku sendirian di meja makan.
Ku selesaikan makanku dengan cepat. Aku tak berselera lagi setelah suapan yang kedua tadi. Ada yang aneh dengan hari ini, ataukah.... aku yang aneh ? Entahlah...



Friday, April 17, 2015

Hello SMA : My First Year

Sebelumnya maaf-maaf-maaf sebesar-besarnya untuk postingan yang terlalu lama terbit, hehe. Maaf ya para fans blogku (aduh plis deh ricaaaaa....)
Soalnya, postingan yang kali ini butuh waktu yang cukupp lama untuk nyelesainnya.

Jadi, postingan kali ini bakalan sesuai dengan judulnya : "Hello SMA"
Karena sekarang aku bukan lagi anak SD, bukan lagi anak SMP, dan sekarang udah pake putih abu-abu, jadi boleh dong sedikit membahas tentang hari-hari yang baru di SMA ;)
Di postingan ini juga bakalan menceritakan (hampir) keseluruhan cerita di tahun pertama di SMA, yaitu masa-masa aku kelas X ^^ (karena cerita ini ditulis secara bertahap bulan demi bulan, kalo loncat-loncat dan rada ga nyambung yaa tolong dimaafkan saja lah :))
*
Masa-masa di SMA itu kata orang-orang adalah masa-masa yang paling seru, paling indah dan paling bikin stress.
Why?
1. Masa SMA itu paling seru karena di SMA inilah kita baru bisa bener-bener gila-gilaan, bisa pergi pagi dan pulang sore tanpa harus memberikan alasan yang sulit-sulit kepada orang tua ketika di tanya "Kok pulangnya sore banget?", kita cukup menjawab dengan jawaban yang simpel "Kan udah SMA ma/pa, banyak kerjaan. Sibuk" Beres. Di tambah lagi, masuk ke SMA itu berarti udah diizinkan pake motor buat kesana-sini tanpa harus di anter dan di jemput lagi (beda cerita untuk kalian-kalian yang emang dibolehin pake motor dari SMP, bahkan SD *wih). Rasanya udah bebas-sebebas-bebasnya :)
2. Masa SMA itu paling indah. Tau dong maksudnya.
Di mana saat SMA inilah banyak banget yang FIL atau falling in love dengan lawan jenis (masa sesama jenis sih-,-). Tapi beda cerita lagi, kalo emang ada diantara kalian yang udah FIL duluan waktu SMP atau bahkan SD *wih lagi :D Walaupun sebenernya cinta di SMA itu juga bisa dikategorikan bakalan jadi cinta monyet, tapi setidaknya ga semonyet-monyet zaman SD dan SMP. Cinta monyet pas SMA agak modern dikit lah dibanding cinta monyet zaman SD dan SMP =)) hahaha...
Dan indah yang kedua adalah moment saat kita bisa habisin waktu bareng temen-temen dan sahabat kita sesuai kemauan kita. Pengalaman pribadiku waktu SMP, ngehabisin waktu bareng temen itu sebates pagi-siang disekolah dan siang-sore di rumah temen, mentok-mentok di JM deh. Tapi kalo di SMA, aku yakin ga bakal ada lagi diantara kalian-kalian yang mau dikasih batasan jam, apalagi disuruh pulang jam 5 sore saat lagi seru-serunya bareng temen. That's why, saat SMA ini lah kita bisa bebas (tapi jangan over bebasnya :p)
3. Dan ketiga, masa SMA itu yang paling bikin stress.
Yup! Di bilang enak sih, ya masa SMA ini emang enak, tapi dimana-mana yang namanya ada seneng pasti ada sedihnya. Dan dimana ada hal yang enak, disitu juga ada hal yang ga enaknya.
First, let me tell you. Di SMA aku yang sekarang itu udah pake Kurikulum 2013, dan sumpah kurikulum ini ribet banget. Walaupun memang dari kelas 10 kita udah dibebasin untuk penjurusan dan gak megang pelajaran IIS (untuk yang masuk jurusan MIA) dan gak megang pelajaran MIA (untuk yang masuk jurusan IIS). That's mean pelajarannya jadi lebih sedikit kan yaaa ;) Tapi, itulah yang buat semuanya berubah saat negara api menyerang (*loh, Ulang!) Tapi, itulah yang buat semuanya menjadi lebih sulit.
Ketika anak MIA (disini aku bahas MIA aja ya, karena aku anak MIA. MIA 3 tepatnya, lebih tepat lagi X MIA 3 SMA Xaverius Lubuklinggau, nama kelasnya Recomment, wali kelasnya Pak Sugito....... kepanjangan ric!) harus belajar 7 jam matematika dan 7 jam bahasa inggris dalam seminggu, dan diajar oleh 2 guru yang berbeda untuk 1 mata pelajarannya dan dengan materi yang juga beda tiap gurunya (khusus matematika dan bahasa inggris doang). Sebenernya sih ga sulit, tapi ribet. 
Misalnya aja kalo waktu SMP :
"Udin, udah kerjain PR matematika belom?"
"Udah kok"
"Pinjem dong"
"Muke lu!"
Dan dialog itu akan berubah ketika masuk ke SMA menjadi :
"Udin, udah kerjain PR matematika belom?"
"PR yang mana?"
"Yang sistem persamaan linier tiga variabel"
"Lah bukannya disuruh kerjain pertidaksamaan logaritma halaman 116"
"Linier tauu !"
"Logaritma juple !"
"Linier bego!"
"Eh bentar deh, Linier itu PR dari siapa ?"
"Pak Wid lah. Emang pertidaksamaan logaritma dari siapa?"
"Bu Katarina" 
pantes ga nyambung. . . .
itulah ketika guru dan materi yang di ajar udah ga sama lagi :")

Tapi overall kalo dijalani emang ga seribet yang dipikir. Tapi satu hal yang bikin stress lagi (ini mungkin khusus di SMA aku) pulang sekolah itu siang banget, dan cuma hari Jumat doang yang pulangnya agak lebih awal dan itu ngebuat aku udah ga bisa ngapa-ngapain lagi pulang sekolah, biasanya waktu SMP, pulang sekolah itu pacaraaan, ngapell,(*ehh BOHONG DEH!) hahaha.. Selain itu juga di SMA aku, baru 2 minggu selesai dibagiin raport MID semester, 3 minggu kemudian udah ulangan semester -_-  dan kata guru-guru juga (setelah survey ke ...... 3 orang guru) ngisi raport MID semester aja udah ribet karena kurikulum 2013 ini. Yang biasanya ngisi raport hanya dengan angka-angka doang di selembar kertas. Sekarang udah jadi 3 lembar kertas yang 2 lembar lainnya adalah berisi catatan-catatan yang mungkin hanya 1 diantara 500 orang yang ngebaca tulisan-tulisan itu.


 Lembar kedua

 Lembar ketiga
That's what I talking 'bout!

Kenapa sih harus Kurikulum 2013 ? Dimana bukan cuma murid yang ribet tapi gurunya juga ribet. Kenapa gak balik lagi ke KTSP 2006 dan hidup damai, sejahtera, aman sentosa dan bahagia selamanya? 
(GILA, ini tulisan kok jadi curhatan semua,ckck.. maap Pak Menteri Pendidikan, aku setuju-setuju aja kok sama Kurikulum 2013 :D kita cinta damai, salam 3 jari)
Okay itu sedikit penjelasan tentang masa-masa SMA kalo kata orang-orang. Seru. Indah. dan Bikin Stress :p