Pikiranku terlalu melayang-layang
Tapi kau ajarkan aku untuk berpasrah
Otakku berimajinasi terlalu jauh
Tak mengerti, rasanya ada yang salah..
Mungkin kau tak tahu apa yang ku tahu
Mungkin kau memang berada di dimensi yang berbeda
Mungkin kau punya cara yang tak sejalan
Dengan perasaanku yang sulit dijelaskan..
Salahkah ketika aku punya perasaan ini?
Salahkah ketika aku butuh dikuatkan?
Salahkah ketika otak ini merajut benang kusut?
Kutahu ini menyakitkan
Untukmu, bahkan juga untuk diriku sendiri..
Aku tahu kita butuh saling percaya
Aku tahu kita butuh saling berpasrah
Demi kedua insan yang harus berkembang
Aku tahu aku salah ketika aku terlalu mengekang
Aku tahu aku salah ketika terlalu menaruh curiga
Tapi tolong katakan dan kuatkan..
Katakan sekiranya rahasia yang mungkin kau simpan
Aku tak tahu itu apa, tapi rasanya ada yang salah..
Kuatkan sekiranya hati yang terlalu rapuh oleh jarak
Aku tak tahu caranya, tapi aku begitu membutuhkan..
Jangan kita kompetisikan kesulitan kita
Karena semua orang punya batasan yang berbeda
Jangan juga kau samakan cara menyelesaikan masalah
Karena kita berdua saja tak kunjung menyamakan asa..
Dua kata diakhir semuanya
Yang begitu kubutuh untuk menyirnakan ragu
"Katakan..."
"Kuatkan..."
Untukmu, seseorang yang terus keperjuangkan.
*ps : i m i s s y o u.
A girl. A student. A dreamer. And this is just simple stories and half of my memories. I hope you enjoy my blog.
Showing posts with label Mystory. Show all posts
Showing posts with label Mystory. Show all posts
Sunday, November 17, 2019
Wednesday, November 13, 2019
Mystory: Tetesan Perpisahan
Tersadar, ruang itu tiba-tiba kosong
Tersadar, kaki melangkah seolah semua adalah lumrah
Tersadar, menit kala itu menjadi menit terpahit
Jelas, waktunya telah tiba
untuk melepas jumpa menjadi kata berpisah
Langit sore itu tak seperti biasanya
Gelap lama namun tak kunjung menampakkan airnya
Apa mereka mengejekku?
Seseorang yang terus menahan sendu
Hingga akhirnya tertumpah di malam itu
Aku berkata,
Aku akan rindu saat deruman motor khas terdengar dari ruang tamu
Aku akan rindu saat bulan bersinar dan kita masih dengan dua mangkuk ronde kita
Aku akan rindu diam dalam hening menatap bangunan tinggi itu sembari kamu disebelahku
Aku akan rindu momen penentuan tempat makan yang acapkali tak sesuai ekspetasi kita
Benar, aku akan rindu semuanya tanpa terkecuali
Bukan maksud untuk memberatkan jalan
Karena cerita kehidupan membentang di depan
Hanya saja kesepian terasa terlalu kalbu
Membiarkan otak terus merakit imajinasi biru
Imajinasi tentang rindu dan sendu yang menjadi satu
Hati memang kerap khawatir dan tertekan
Atas hadirnya seonggok cerita dan rasa nyaman
Tapi, kuyakin kita sudah saling menguatkan
Tetesan air mata malam itu semoga meyakinkan
Hai kamu, selamat berjuang. Semoga kita kuat
Jogja akan merindukanmu, begitu pula aku
Doaku menyertaimu, wahai nyamanku
Semoga langkahmu terus terberkati
Seiring raga ini akan terus menanti
Waktu dan saat dimana kita bertemu kembali
I love you.
ttd, 14 Nov 2019.
Tersadar, kaki melangkah seolah semua adalah lumrah
Tersadar, menit kala itu menjadi menit terpahit
Jelas, waktunya telah tiba
untuk melepas jumpa menjadi kata berpisah
Langit sore itu tak seperti biasanya
Gelap lama namun tak kunjung menampakkan airnya
Apa mereka mengejekku?
Seseorang yang terus menahan sendu
Hingga akhirnya tertumpah di malam itu
Aku berkata,
Aku akan rindu saat deruman motor khas terdengar dari ruang tamu
Aku akan rindu saat bulan bersinar dan kita masih dengan dua mangkuk ronde kita
Aku akan rindu diam dalam hening menatap bangunan tinggi itu sembari kamu disebelahku
Aku akan rindu momen penentuan tempat makan yang acapkali tak sesuai ekspetasi kita
Benar, aku akan rindu semuanya tanpa terkecuali
Bukan maksud untuk memberatkan jalan
Karena cerita kehidupan membentang di depan
Hanya saja kesepian terasa terlalu kalbu
Membiarkan otak terus merakit imajinasi biru
Imajinasi tentang rindu dan sendu yang menjadi satu
Hati memang kerap khawatir dan tertekan
Atas hadirnya seonggok cerita dan rasa nyaman
Tapi, kuyakin kita sudah saling menguatkan
Tetesan air mata malam itu semoga meyakinkan
Hai kamu, selamat berjuang. Semoga kita kuat
Jogja akan merindukanmu, begitu pula aku
Doaku menyertaimu, wahai nyamanku
Semoga langkahmu terus terberkati
Seiring raga ini akan terus menanti
Waktu dan saat dimana kita bertemu kembali
I love you.
ttd, 14 Nov 2019.
Tuesday, December 19, 2017
Mystory : Arti sebuah rindu
Mataku tertutup.
Aku mendengar sendiri
bagaimana nada dan irama
dari hembusan napasku
Aku terpaku.
Dalam keheningan ini
otakku bekerja lebih cepat
lebih kuat dari biasanya
Ada cerita, ada tanya, ada kata yang tak terucap
Bisa saja. Tapi kepada siapa ?
Putaran kipas angin ?
Atau kepada pantulan cermin besar
yang tak lain adalah... diriku sendiri?
Bisa saja, jika tujuanku hanya untuk didengarkan
jika tujuanku bukanlah jawaban
jika tujuanku bukanlah balasan
Sayangnya bukan itu....
Aku ingin mendengar ceritamu
Aku ingin jawab atas tanda tanyaku
Aku ingin balasan kata yang terlontar dari bibirmu
Tapi...
dimana kamu ?
Kotak kecil dengan tombol-tombol ini
memang kerap mengantarku
'merasa' lebih dekat padamu
tapi bagiku
rasa saja tak cukup
ya..
Aku memang egois
Aku ingin kamu benar ada disini
Bukan hanya rasa, bukan hanya angan
Bukan hanya tulisan tapi juga ucapan
Bukan hanya suara tapi juga raut wajah
Tapi aku tahu, bukan hanya aku.
Ribuan bahkan jutaan insan merasakan hal ini,
terpisah jarak bahkan waktu.
Ketika tubuh ini menginjak air,
kau malah naik ke puncak bukit.
Ketika tubuh ini terbaring,
kau malah melipat selimut dan menghirup udara pagi.
Tiba-tiba saja aku tersenyum.
Mengapa Tuhan menciptakan jarak dan waktu ?
Bukankah yang dekat terasa lebih menyenangkan ?
Karena ternyata
jarak dan waktu bisa membawa rasa ini
Karena ternyata
rasa merindu bisa sehebat ini
Kala merindu,
ada jeda untuk kita melihat ke belakang
Kala merindu,
pegas otakku memutar momen indah kita ketika bersama
Kala merindu juga,
aku lebih menghargai sebuah kebersamaan
Hei kamu disana,
aku rindu bukan hanya pada bahagia kita
tapi juga pada konflik kecil tiap kita bertatap muka
aku rindu wajah kesal dan luapan amarahmu
aku rindu diam kita tanpa satupun mengalah
aku rindu sindiran kita satu sama lain
Setidaknya kala itu.......
aku melihatmu secara langsung.
Hari ini, detik ini.
Aku hanya bisa terus menerus
mengetikkan tulisan
dan mengucapkan omongan
Aku tak bisa menatap langsung
apalagi memelukmu.
Tapi padamu,
kukatakan dari lubuk hatiku
Hadirmu mencerahkan senja yang kalbu
Ketidakhadiranmu membawa arti sebuah rindu
Jangan letih menunggu
Aku disini...
menanti saat kita akan bertemu.
*ps : i miss u.
Aku mendengar sendiri
bagaimana nada dan irama
dari hembusan napasku
Aku terpaku.
Dalam keheningan ini
otakku bekerja lebih cepat
lebih kuat dari biasanya
Ada cerita, ada tanya, ada kata yang tak terucap
Bisa saja. Tapi kepada siapa ?
Putaran kipas angin ?
Atau kepada pantulan cermin besar
yang tak lain adalah... diriku sendiri?
Bisa saja, jika tujuanku hanya untuk didengarkan
jika tujuanku bukanlah jawaban
jika tujuanku bukanlah balasan
Sayangnya bukan itu....
Aku ingin mendengar ceritamu
Aku ingin jawab atas tanda tanyaku
Aku ingin balasan kata yang terlontar dari bibirmu
Tapi...
dimana kamu ?
Kotak kecil dengan tombol-tombol ini
memang kerap mengantarku
'merasa' lebih dekat padamu
tapi bagiku
rasa saja tak cukup
ya..
Aku memang egois
Aku ingin kamu benar ada disini
Bukan hanya rasa, bukan hanya angan
Bukan hanya tulisan tapi juga ucapan
Bukan hanya suara tapi juga raut wajah
Tapi aku tahu, bukan hanya aku.
Ribuan bahkan jutaan insan merasakan hal ini,
terpisah jarak bahkan waktu.
Ketika tubuh ini menginjak air,
kau malah naik ke puncak bukit.
Ketika tubuh ini terbaring,
kau malah melipat selimut dan menghirup udara pagi.
Tiba-tiba saja aku tersenyum.
Mengapa Tuhan menciptakan jarak dan waktu ?
Bukankah yang dekat terasa lebih menyenangkan ?
Karena ternyata
jarak dan waktu bisa membawa rasa ini
Karena ternyata
rasa merindu bisa sehebat ini
Kala merindu,
ada jeda untuk kita melihat ke belakang
Kala merindu,
pegas otakku memutar momen indah kita ketika bersama
Kala merindu juga,
aku lebih menghargai sebuah kebersamaan
Hei kamu disana,
aku rindu bukan hanya pada bahagia kita
tapi juga pada konflik kecil tiap kita bertatap muka
aku rindu wajah kesal dan luapan amarahmu
aku rindu diam kita tanpa satupun mengalah
aku rindu sindiran kita satu sama lain
Setidaknya kala itu.......
aku melihatmu secara langsung.
Hari ini, detik ini.
Aku hanya bisa terus menerus
mengetikkan tulisan
dan mengucapkan omongan
Aku tak bisa menatap langsung
apalagi memelukmu.
Tapi padamu,
kukatakan dari lubuk hatiku
Hadirmu mencerahkan senja yang kalbu
Ketidakhadiranmu membawa arti sebuah rindu
Jangan letih menunggu
Aku disini...
menanti saat kita akan bertemu.
*ps : i miss u.
Monday, August 28, 2017
Mystory : Langit Kota Yogya
Aku pernah berkata bahwa 'ini nyamanku'
bahkan sampai saat ini aku masih terpaku pada titik itu
titik dimana semua masih terasa mudah
titik dimana pahit pun terasa indah ketika bersama
titik dimana pertemuan seakan menjadi jawaban atas segalanya
sekarang, aku sudah melangkah
jauh ke depan dan jarak semakin terasa
ada ingin, ada harap, dan ada setitik rasa
untuk kembali ke zona nyaman itu
tapi aku tau, aku sudah terlalu jauh
apa yang harus diperbuat sekarang ?
yakinkah aku pada diriku sendiri
untuk menapak di lembaran yang baru ?
yakinkah aku pada diriku sendiri
untuk membiarkan hari kemarin berlalu ?
hari berganti dan waktu juga tak akan pernah menunggu
sadar aku bukan lagi di persimpangan jalan
tapi memang ku sudah melangkah
ke jalan yang asing dan tanpa nyamanku
disini memang tempat yang baru dan hari yang baru
tapi percayalah rindu itu kuat
bukankah kita selalu berhasil melewatinya?
hanya saja ini semakin sulit
bukankah kita memang hidup untuk tantangan ?
pergi bukan berarti melupakan
karena 'nyaman' bukan suatu hal gampangan
selama senyum bisa ku ukir,
aku percaya disana pun kamu begitu
aku akan berusaha menemukan nyamanku disini
bukan sebagai pengganti tapi sebagai pengingat
bahwa nyaman itu indah dan aku punya itu
bersamamu, bersama kenangan....
*
*
malam ini kurenungkan setiap perjalanan
sembari memandang ke langit luas dan aku terpana
langit kota Yogya ternyata seindah ini
dan aku tak mengira
bahwa di kota inilah kita menutup nyaman kita...
#AYD2017
bahkan sampai saat ini aku masih terpaku pada titik itu
titik dimana semua masih terasa mudah
titik dimana pahit pun terasa indah ketika bersama
titik dimana pertemuan seakan menjadi jawaban atas segalanya
sekarang, aku sudah melangkah
jauh ke depan dan jarak semakin terasa
ada ingin, ada harap, dan ada setitik rasa
untuk kembali ke zona nyaman itu
tapi aku tau, aku sudah terlalu jauh
apa yang harus diperbuat sekarang ?
yakinkah aku pada diriku sendiri
untuk menapak di lembaran yang baru ?
yakinkah aku pada diriku sendiri
untuk membiarkan hari kemarin berlalu ?
hari berganti dan waktu juga tak akan pernah menunggu
sadar aku bukan lagi di persimpangan jalan
tapi memang ku sudah melangkah
ke jalan yang asing dan tanpa nyamanku
disini memang tempat yang baru dan hari yang baru
tapi percayalah rindu itu kuat
bukankah kita selalu berhasil melewatinya?
hanya saja ini semakin sulit
bukankah kita memang hidup untuk tantangan ?
pergi bukan berarti melupakan
karena 'nyaman' bukan suatu hal gampangan
selama senyum bisa ku ukir,
aku percaya disana pun kamu begitu
aku akan berusaha menemukan nyamanku disini
bukan sebagai pengganti tapi sebagai pengingat
bahwa nyaman itu indah dan aku punya itu
bersamamu, bersama kenangan....
*
*
malam ini kurenungkan setiap perjalanan
sembari memandang ke langit luas dan aku terpana
langit kota Yogya ternyata seindah ini
dan aku tak mengira
bahwa di kota inilah kita menutup nyaman kita...
#AYD2017
Saturday, April 8, 2017
Mystory : Kau tahu 'maaf' ?
Kau tau apa itu ‘maaf’ ?
Aku tahu. Hanya sekadar tahu.
Aku tidak ingin mengenalnya lebih dalam,
apalagi sampai merasa dekat dan menjadikannya yang ‘paling’ di hidupku.
Aku hanya menjadikannya yang ‘asing’ dihidupku.
Ibaratkan seorang tukang tambal ban yang hanya akan aku jumpai saat ban
motorku bocor,
atau seorang dokter yang hanya akan aku jumpai saat aku sakit,
Aku menjadikannya ‘pilihan terakhir’,
saat seolah tak ada lagi jalan keluar di labirin tak berujung dan aku
terpaksa mati membusuk.
Karena bagiku, kala ‘maaf’ hadir,
kala itu juga aku dibawa ke rasa susah yang sangat dan sedih yang dalam.
Aku tak pernah ingin membiarkan ‘maaf’ hadir bersamaku
kala aku sedang menikmati hari,
kala aku sedang dipeluk kebahagiaan bersama temanku.
Karena jauh di lubuk hati,
aku telah menjadikannya sebagai ‘pengganggu’,
seolah tukang pengamen yang tiba-tiba memetik gitar dengan riang saat
tenangnya makan malam.
Begitu pula kalian,
Teman, sahabat, dan semua yang hadir mengisi hidupku.
Aku tak pernah ingin ,
dan bahkan tak pernah mengharapkan
saat dimana ‘maaf’ terlontar dari bibir kalian.
Aku tentu lebih membutuhkan buku dibandingkan make-up saat aku hanyalah seorang
pelajar,
Aku tentu lebih membutuhkan pakaian saat aku telanjang,
Aku tentu lebih membutuhkan makanan saat aku lapar.
Dan aku juga lebih membutuhkan kalian dibandingkan ‘maaf’ yang terucap.
Bagaimana mungkin aku bisa bahagia,
saat ‘maaf’ hadir dan merusak suasana,
apalagi saat kehadirannya malah memusnahkan kehadiranmu.
Aku tak pernah ingin ‘maaf’ menggantikan posisi kebersamaan kita.
Jikalau kalian berpikir aku akan membutuhkan senter saat lampu padam,
Kenyataannya aku bisa menggunakan lilin.
Jikalau kalian berpikir saat susah dan sedih melanda,
hanya ‘maaf’ yang harus kudapat,
kenyataannya aku hanya butuh kehadiran kalian.
Tapi memang,
Sebagaimana manusia pasti merasakan sakit, meskipun tak ingin.
Akan tiba pula saatnya dimana ‘maaf’ harus terpaksa hadir.
Tapi, bukan berarti aku ingin penyakit kronis dan penyakit tak
tersembuhkan.
Aku pun tak ingin ‘maaf’ hadir untuk selamanya.
Biarkanlah ‘maaf’ menjadi kunci untuk membuka pintu dan membiarkanku
merasakan angin luar.
Tapi, jangan jadikan ‘maaf’ sebagai kendaraan,
yang harus mengiringi perjalananku.
.
.
.
.
Karena bagiku, tak ada ‘maaf’ yang membahagiakan.
Thursday, November 17, 2016
Mystory : Bolehkah aku datang lagi ? dan bisakah kau kembali ?
Sudah dua atau tiga bulan lamanya ? Entahlah.
Yang pasti, aku baru tersadar sekarang, bahwa hari ini benar-benar datang,
bahwa masa ini benar-benar hadir.
Saat ini adalah saat dimana aku sudah bukan lagi cerita dalam hidupmu.
Saat ini adalah saat dimana aku bahkan bukan lagi goresan kecil dalam kanvas kehidupanmu.
Seharusnya, aku mudah melupakan.
Sebagaimana biasa yang aku lakukan.
Tapi mengapa Tuhan mencobai aku kali ini?
Mengapa otak kembali mengingat masa-masa itu ?
Mengapa hati berdetak keras seketika tersebut sebagian kecil dari kisah kita dulu ?
Seharusnya tetesan air mata ini tidak tertumpah karena dirimu.
Atau lebih tepatnya, seharusnya aku tidak meneteskan air mata.
Tapi tidak demikian terjadi.
Tulisan ini bukti hati yang memberontak.
Bukti hati yang ingin mengungkapkan kata yang tak sempat terucapkan.
Sekarang biarkan ....
dan izinkan aku mengungkapkan....
.
.
.
Padamu,
yang hadir di keheningan malam di keramaian ibukota....
Seperti yang kukatakan diawal,
tulisan ini hadir karena hati yang memberontak.
Hati ini kembali mengarah padamu,
otak ini kembali mengingatmu,
setelah sekian lama dirimu pergi....
Jangan tanyakan mengapa. Ini juga bukan kuasaku.
Taukah kamu bagaimana rasanya,
seketika setiap hal kecil disekitarku berubah menjadi titik awal pintu masuk ke memori kita dulu ?
.
Satu minggu setelah tulisan ini kubuat,
aku akan pergi ke tempat dimana goresan cerita tergambar paling indah.
Bukan inginku, tapi keadaan memaksa.
Tapi seolah hati merasa tak dipaksa, hati malah memutar setiap memori secara lengkap.
Aku teringat kembali momen kita, bersama puluhan teman lainnya.
Bukan mereka, tapi kamu, si kotak-kotak dan putih.
Aku teringat bagaimana kotak-kotak itu tersampir di pundakku,
dari awan menggelap hingga terang kembali menyapa.
Aku teringat bagaimana rasanya mengarungi jalan berbatu dengan kamu disampingku.
Aku teringat bagaimana kita mengucapkan salam perpisahan kala itu.
Aku mengingat semuanya.
.
Hal kecil lain, si biru.
Ia selalu menemaniku, bahkan kemanapun aku pergi.
Tapi mengapa detik ini, saat ini, ketika aku memandanginya,
otak dan hati malah mengarahkannya pada kenangan akan dirimu ?
Aku teringat bagaimana sulitnya aku merencanakan pertemuanku denganmu,
di tengah sibuknya ujian sekolahku.
Aku teringat bagaimana rasanya melihatmu keluar dari pintu geser itu.
Aku teringat bagaimana rasanya hanya berdua denganmu mengisi perut kosong.
.
.
Seketika semua menyeruak.
Air mata sudah tak bisa lagi dibendung.
.
.
.
Aku menyesal, ketika kala itu aku mundur.
Aku menyesal, ketika aku sudah berusaha datang,
namun memilih untuk menyerah dan melepaskan semua.
Kala itu, aku memang memilih menyerah karena suatu alasan.
Berawal dari perihnya hati ini mengarungi jalan tanpa kepastian.
Aku pernah mengsalah-artikan segala ketulusan.
Aku pernah berandai dan berharap dipeluk masa depan indah bersamamu.
Ditambah lagi,
ketika aku berusaha 'Kembali', dengan sadisnya kau berkata 'Jangan Datang Lagi'
.
.
Aku tau dengan jelas semua salahku.....
.
.
dan mungkin inilah alasan mengapa aku kembali merasakan sakit....
.
.
.
.
"Hai kamu,
aku benar-benar berharap kamu bisa membaca tulisan ini,
entah hari ini juga,
atau mungkin satu minggu, satu bulan, atau satu tahun lagi.
Yang jelas, aku ingin kamu tahu,
bahwa hati ini pernah berharap bisa datang lagi,
bahwa hati ini berharap kamu kembali,
bahwa ....
.
.
aku merindukanmu."
Bintang, matahari, dan rembulan.....
Jika memang dirinya sudah bahagia disana, aku rela.
Aku akan turut bahagia bersamanya.
Tapi, satu yang belum bisa kurelakan.
Aku tak ingin menutup habis pintu ini,
Aku tak ingin membuang habis kenangan ini,
Tolong
.
.
katakan padanya...
sampaikan pertanyaan ini....
.
.
"Bolehkah aku datang lagi ? dan bisakah kau kembali ?"
Saturday, September 10, 2016
Mystory : Sebatas Pohon Mangga
Terlalu mudah hati ini berlabuh. Terlalu mudah hati ini menambatkan pilihannya kepada sosok pria berwajah manis itu. Hati dan perasaan bukanlah permainan. Tetapi, kenapa Dia memberikan hati yang begitu mudah mencintai dan mudah tersakiti dengan kepergian yang begitu saja. Tidak semua yang terlihat itu indah bukan? Tetapi kenapa mata ini hanya menginformasikan pandangan pertamanya kepada hati, bahwa mata sudah terbuai dan jatuh hati padanya? Andaikan hati bisa bicara sekarang juga, 'hai mata, sebegitu mudahnya-kah engkau membuatku tersakiti?', 'kenapa engkau selalu menatapnya bagai tak lagi memikirkan perasaanku?'
Aku tau memang tak semua indah, namun juga tak semuanya buruk. Hanya rasa yang tak pasti, membuatku berpikir apa ini terlalu cepat? Hembusan nafas mengiringku ke lembah yang lebih dalam. Aku bagai tak punya beban pikiran seketika bersamamu. Aku bagai orang bodoh yang tersenyum sumringah setiap kamu menatapku. Aku bagai tak bisa berpikir, tak bisa berpijak pada kenyataan bahwa ini hanyalah permulaan saja. Manis itu hanya di awal? Mungkin saja.
Tergambar di otakku pertemuan pertama kita tanpa sengaja dan tanpa rencana. Bahkan kita adalah dua orang asing yang sudah dekat sebelum hati ini tersentuh. Pertemuan itu, benarkah ia hanya mengetuk pintu hatiku? Benarkah hanya aku disini yang membukakan pintuku, sedangkan pintumu masih tertutup rapat? Tersadar sejak pertemuan itu, bukan hanya aku yang berdiri diambang pintu menantimu masuk, tapi bahkan banyak tetanggaku yang menyiapkan hidangan super mewah mereka untuk menantimu masuk ke pintu rumah mereka. Aku tahu aku bukan satu-satunya.
Cepat atau lambat aku yang terpaku disini akan kian merunduk dan akhirnya terduduk. Hanya dapat menanti langkah kakimu. Entah itu pergi menjauh, ataukah yang tak terduga datang mendekat. Aku takkan menyalahkan diriku untuk perasaan yang semudah itu. Aku juga takkan menyalahkan dirimu untuk tanda tanya yang begitu besar yang kau berikan padaku. Air sungai di tepi pegunungan terus saja mengalir, demikian akan kubuat hidupku seperti itu.
Harapan biar kutambatkan hanya sebatas pohon mangga, agar dikala aku terjatuh, aku hanya akan terluka dan sembuh pada waktunya. Namun bila alam memihak dan kau mengisi harapanku hingga penuh, akan kubiarkan engkau memanjat dengan mudahnya ke atas pohon mangga ini. Doaku menyertaimu, si penakhluk mata dan hati :)
Aku tau memang tak semua indah, namun juga tak semuanya buruk. Hanya rasa yang tak pasti, membuatku berpikir apa ini terlalu cepat? Hembusan nafas mengiringku ke lembah yang lebih dalam. Aku bagai tak punya beban pikiran seketika bersamamu. Aku bagai orang bodoh yang tersenyum sumringah setiap kamu menatapku. Aku bagai tak bisa berpikir, tak bisa berpijak pada kenyataan bahwa ini hanyalah permulaan saja. Manis itu hanya di awal? Mungkin saja.
Tergambar di otakku pertemuan pertama kita tanpa sengaja dan tanpa rencana. Bahkan kita adalah dua orang asing yang sudah dekat sebelum hati ini tersentuh. Pertemuan itu, benarkah ia hanya mengetuk pintu hatiku? Benarkah hanya aku disini yang membukakan pintuku, sedangkan pintumu masih tertutup rapat? Tersadar sejak pertemuan itu, bukan hanya aku yang berdiri diambang pintu menantimu masuk, tapi bahkan banyak tetanggaku yang menyiapkan hidangan super mewah mereka untuk menantimu masuk ke pintu rumah mereka. Aku tahu aku bukan satu-satunya.
Cepat atau lambat aku yang terpaku disini akan kian merunduk dan akhirnya terduduk. Hanya dapat menanti langkah kakimu. Entah itu pergi menjauh, ataukah yang tak terduga datang mendekat. Aku takkan menyalahkan diriku untuk perasaan yang semudah itu. Aku juga takkan menyalahkan dirimu untuk tanda tanya yang begitu besar yang kau berikan padaku. Air sungai di tepi pegunungan terus saja mengalir, demikian akan kubuat hidupku seperti itu.
Harapan biar kutambatkan hanya sebatas pohon mangga, agar dikala aku terjatuh, aku hanya akan terluka dan sembuh pada waktunya. Namun bila alam memihak dan kau mengisi harapanku hingga penuh, akan kubiarkan engkau memanjat dengan mudahnya ke atas pohon mangga ini. Doaku menyertaimu, si penakhluk mata dan hati :)
Sunday, June 26, 2016
Mystory : Mengenang Setiap Memori
Hai rembulan penguasa langit malam
Hai taburan bintang
Sang dewi kegelapan malam
Menatapmu tanpa penghalang
Berbaring disana
Bagai pemilik kehidupan
Saat itu, bukan kesendirian yang menyapa
Saat itu, beberapa pasang bola mata hadir
Tapi satu yang berbeda
Ada cahaya lain dari indera itu
Bingung, heran, tapi aku kagum
Bagaimana alam dan kuasa Tuhan
Bekerja atas diriku
Bekerja atas pertemuan
Dan bekerja atas cerita yang datang
Pegas otak kembali berputar
Rajutan waktu yang begitu cepat berlalu
Tergambar kembali
Kala mentari sedang berdiri tegap
Kala sendiri dalam hati menyapa
Kala kedua teman mengayuh sepeda
Menghadirkan keasingan di tempat yang baru
Kerap aku ditinggalkan waktu itu
Kerap hadir wajah baru
Perbincangan hari itu
Mengalun begitu saja
Lalu berpikir hari akan berakhir
Cerita akan usai
Seketika kayuhan sepeda kembali
Hati ini tidak pernah meminta
Hati ini bahkan membiarkan begitu saja
Menganggap semua hanya cerita
Bukan akan menjadi kisah
Tapi...
Waktu menjawab
Pertemuan bergulir
Bahkan kita menderapkan kaki bersama
Ke arah yang sama,
Tempat yang sebenarnya bukanlah tujuanmu
Hari berganti
Hari baru ini meyakinkan diri
Seindahnya hari kemarin
Semua sudah berlalu
Cerita baru hari ini
Dan bukan lanjutannya
Tapi mengapa malam esoknya
Menghadirkan lagi dirinya
Di tengah kegelapan dan sorakan orang-orang
Tuhan yang merencanakan?
Bukan, Ia yang memang berkehendak
Di tengah keheningan malam
Selepas acara dan akhir segalanya
Terlontar kata asing
Terlontar kalimat hangat
Bolehkan aku mendengarnya?
Benarkah ini bila aku mengetahuinya?
Aku merasa dunia ini begitu bulat
Rasa ini takkan berujung
Sampai kapanpun
Tapi masih tetapkah aku boleh tahu?
Kukatakan pada langit gelap malam itu
Rasa syukur dari relung hati
Mengizinkanku untuk merasakan semua ini
Menjalani setiap kondisi
Dan mengenang setiap memori
Hai taburan bintang
Sang dewi kegelapan malam
Menatapmu tanpa penghalang
Berbaring disana
Bagai pemilik kehidupan
Saat itu, bukan kesendirian yang menyapa
Saat itu, beberapa pasang bola mata hadir
Tapi satu yang berbeda
Ada cahaya lain dari indera itu
Bingung, heran, tapi aku kagum
Bagaimana alam dan kuasa Tuhan
Bekerja atas diriku
Bekerja atas pertemuan
Dan bekerja atas cerita yang datang
Pegas otak kembali berputar
Rajutan waktu yang begitu cepat berlalu
Tergambar kembali
Kala mentari sedang berdiri tegap
Kala sendiri dalam hati menyapa
Kala kedua teman mengayuh sepeda
Menghadirkan keasingan di tempat yang baru
Kerap aku ditinggalkan waktu itu
Kerap hadir wajah baru
Perbincangan hari itu
Mengalun begitu saja
Lalu berpikir hari akan berakhir
Cerita akan usai
Seketika kayuhan sepeda kembali
Hati ini tidak pernah meminta
Hati ini bahkan membiarkan begitu saja
Menganggap semua hanya cerita
Bukan akan menjadi kisah
Tapi...
Waktu menjawab
Pertemuan bergulir
Bahkan kita menderapkan kaki bersama
Ke arah yang sama,
Tempat yang sebenarnya bukanlah tujuanmu
Hari berganti
Hari baru ini meyakinkan diri
Seindahnya hari kemarin
Semua sudah berlalu
Cerita baru hari ini
Dan bukan lanjutannya
Tapi mengapa malam esoknya
Menghadirkan lagi dirinya
Di tengah kegelapan dan sorakan orang-orang
Tuhan yang merencanakan?
Bukan, Ia yang memang berkehendak
Di tengah keheningan malam
Selepas acara dan akhir segalanya
Terlontar kata asing
Terlontar kalimat hangat
Bolehkan aku mendengarnya?
Benarkah ini bila aku mengetahuinya?
Aku merasa dunia ini begitu bulat
Rasa ini takkan berujung
Sampai kapanpun
Tapi masih tetapkah aku boleh tahu?
Kukatakan pada langit gelap malam itu
Rasa syukur dari relung hati
Mengizinkanku untuk merasakan semua ini
Menjalani setiap kondisi
Dan mengenang setiap memori
Thursday, April 28, 2016
Mystory : Yang Kau Butuhkan (Bukan Yang Kau Mau)
Ketukan di hati ini mengatakan
Mungkin memang aku yang kau mau
Tapi sisi hati ini berlawan dari pola pikir
Aku bisa berada di sini
Aku bisa ada untukmu
Tapi tidak untuk menjadi yang kau mau
Langit biru selalu datang ketika kegelapan sirna
Rembulan pun hadir saat matahari pergi
Mereka tak pernah bersama
Bertemu pun mungkin tak kuasa
Tapi satu yang alam tahu
Dan yang manusia ingat
Mereka selalu ada,
dalam bagiannya masing-masing
Membawa sebersit keindahan
Dalam loncatan waktu tanpa sadar
Indah tak selalu bersama
Jauh pun tak selalu mengecewakan
Mungkin jarak ini adalah jembatan
Untuk kita menjalin persahabatan
Aku mengenal dan kau mengisi hariku
Akan selalu tercatat sebagai goresan kenangan
Mungkin goresanku tak seindah goresanmu
Yang kau torehkan dengan segala khayalan
Imajinasi super tinggimu
Tapi disini aku tahu
Inginmu itu bukan yang kau perlu
Sirnalah inginmu itu
Aku disini bersedia
Mengikat janji pada sang rembulan
Mengatakan padanya
Aku bisa menjadi seseorang
Yang kau butuhkan
Saturday, April 23, 2016
Mystory : Berlanjutlah Karya Ini
Terhitung dari sini
Kami semua melangkah
Terhitung dari kebersamaan ini
Kami semua berkarya
Memang langkah ini
Tak bersumber dari tempat yang sama
Tapi yakinlah
Derapan ini akan bermuara ke titik yang sama
Di tempat yang indah
Dimana kebersamaan akan hadir nyata
Menyisip halus dalam relung jiwa
Membongkar habis kenangan sang alam
Seiring waktu bergulir
Dan karya terus mengalir
Waktu yang tak sebentar ini
Akhirnya berujung juga
Di titik ini kita semua ada
Hadir menyapa dalam pandang mata
Senyum di bibir dan kalimat mengisi otak
Akan terbayarkah semuanya ?
Akan berlanjutkah karya ini ?
Awal mulanya tak mungkin tanpa akhir
Tinggal ketokan palu kita yang menentukan
Semua terjadi tanpa sengaja
Tapi semua terjadi karena alasan
Alasan Sang Kuasa untuk menjadikan semuanya
Palu ini memang bisa berkata
Tapi palu-Nya yang akan memecahkan semua
Hanya harap dan kata
Semoga sudi terjadi
Berlanjutlah karya ini
Kami semua melangkah
Terhitung dari kebersamaan ini
Kami semua berkarya
Memang langkah ini
Tak bersumber dari tempat yang sama
Tapi yakinlah
Derapan ini akan bermuara ke titik yang sama
Di tempat yang indah
Dimana kebersamaan akan hadir nyata
Menyisip halus dalam relung jiwa
Membongkar habis kenangan sang alam
Seiring waktu bergulir
Dan karya terus mengalir
Waktu yang tak sebentar ini
Akhirnya berujung juga
Di titik ini kita semua ada
Hadir menyapa dalam pandang mata
Senyum di bibir dan kalimat mengisi otak
Akan terbayarkah semuanya ?
Akan berlanjutkah karya ini ?
Awal mulanya tak mungkin tanpa akhir
Tinggal ketokan palu kita yang menentukan
Semua terjadi tanpa sengaja
Tapi semua terjadi karena alasan
Alasan Sang Kuasa untuk menjadikan semuanya
Palu ini memang bisa berkata
Tapi palu-Nya yang akan memecahkan semua
Hanya harap dan kata
Semoga sudi terjadi
Berlanjutlah karya ini
Tuesday, March 15, 2016
Mystory : Dalam Nama-Mu
Beribu pasang mata
Termasuk milik sang cahaya kesempurnaan
Memandang lurus ke arah yang sama
Ke atas Tahta Kemuliaan
Dalam dekapan Roh Kudus yang mulia
Hari ini aku bersujud
Bersanding dengan ratusan makhluk ciptaan-Nya
Yang percaya kepada-Nya
Yang tunduk dan taat pada perintah-Nya
Tak satu nama yang ku kenal
Tak satu wajah yang pernah ku lihat
Tapi aku tahu
Nama yang tak ku kenal
Dan wajah tak pernah ku lihat itu
Adalah keluargaku
Keluarga dalam Tuhanku yang satu
Perjumpaan dan perpisahan
Bukan
Jumpa dan salam temu yang ku tahu
Raga memang bisa jauh
Tapi ada cinta kasih di dalam jiwa
Yang mendekatkan setiap perjumpaan
Tanpa ada perpisahan
Atas cahaya kesempurnaan yang hadir
Aku bersyukur kepada-Mu
Atas ratusan cinta kasih yang Kau pertemukan
Aku bersyukur kepada-Mu
Merajalela-lah Engkau, Tuhanku
Kumpulkan kami semua dalam dekapanmu
Hati ini satu, dalam nama-Mu yang kudus
Termasuk milik sang cahaya kesempurnaan
Memandang lurus ke arah yang sama
Ke atas Tahta Kemuliaan
Dalam dekapan Roh Kudus yang mulia
Hari ini aku bersujud
Bersanding dengan ratusan makhluk ciptaan-Nya
Yang percaya kepada-Nya
Yang tunduk dan taat pada perintah-Nya
Tak satu nama yang ku kenal
Tak satu wajah yang pernah ku lihat
Tapi aku tahu
Nama yang tak ku kenal
Dan wajah tak pernah ku lihat itu
Adalah keluargaku
Keluarga dalam Tuhanku yang satu
Perjumpaan dan perpisahan
Bukan
Jumpa dan salam temu yang ku tahu
Raga memang bisa jauh
Tapi ada cinta kasih di dalam jiwa
Yang mendekatkan setiap perjumpaan
Tanpa ada perpisahan
Atas cahaya kesempurnaan yang hadir
Aku bersyukur kepada-Mu
Atas ratusan cinta kasih yang Kau pertemukan
Aku bersyukur kepada-Mu
Merajalela-lah Engkau, Tuhanku
Kumpulkan kami semua dalam dekapanmu
Hati ini satu, dalam nama-Mu yang kudus
Tuesday, February 16, 2016
Mystory : Sang Rintik Hujan
Rintik hujan membasahi tanah
Aroma yang khas tersebar meluas
Merasuk dan mengalirkan sejumput pikiran
Memutar pegas di otak untuk kembali
Kembali ke kenangan waktu itu
Kau sempat membawaku melambung
Tinggi nan jauh ke sudut langit biru
Tapi
Kau juga yang mendorongku
Ke lubang gelap sempit tak berlentera
Angin berhembus
Pikiranku menapak
Terenyak dengan pikiran sedetik sebelum
Apa yang terjadi kemudian ?
Apa rajutan kisah yang ada sekarang ?
Masih samakah ?
Kurasa iya
Tapi pandanganku yang tak lagi sama.
Di langit memang kurasakan sejuta cinta
Cinta yang begitu indah
Tergores begitu dalam di relung hati
Tapi
Cinta yang sama terukir juga di kegelapan
Dalam jarak dan waktu
Walau sempit tak berlentera
Menunggu memang tak mudah
Menanti dalam ketidakpastian apalagi
Tapi aku yakin,
Kenangan yang ada bukan Tuhan berikan
hanya untuk dilupakan
Ada rasa, ada cinta, dan ada kisah
Sesuatu yang berharga
Ketika buku usang ini bisa kuraih lagi
Dan aku masih diombang-ambing keadaan
Aku siap
Aku berusaha untuk sabar
Karena tak ada bahagia tanpa usaha
Karena cinta ini tak pernah akan padam rasanya
Kepada rintik hujan kusampaikan salam hangat
Kirimkan padanya di seberang sana
Biar ia merasakan
Hangat cinta yang kukirimkan padanya
Sekaligus dingin menusuk dari engkau,
Sang Rintik Hujan....
Aroma yang khas tersebar meluas
Merasuk dan mengalirkan sejumput pikiran
Memutar pegas di otak untuk kembali
Kembali ke kenangan waktu itu
Kau sempat membawaku melambung
Tinggi nan jauh ke sudut langit biru
Tapi
Kau juga yang mendorongku
Ke lubang gelap sempit tak berlentera
Angin berhembus
Pikiranku menapak
Terenyak dengan pikiran sedetik sebelum
Apa yang terjadi kemudian ?
Apa rajutan kisah yang ada sekarang ?
Masih samakah ?
Kurasa iya
Tapi pandanganku yang tak lagi sama.
Di langit memang kurasakan sejuta cinta
Cinta yang begitu indah
Tergores begitu dalam di relung hati
Tapi
Cinta yang sama terukir juga di kegelapan
Dalam jarak dan waktu
Walau sempit tak berlentera
Menunggu memang tak mudah
Menanti dalam ketidakpastian apalagi
Tapi aku yakin,
Kenangan yang ada bukan Tuhan berikan
hanya untuk dilupakan
Ada rasa, ada cinta, dan ada kisah
Sesuatu yang berharga
Ketika buku usang ini bisa kuraih lagi
Dan aku masih diombang-ambing keadaan
Aku siap
Aku berusaha untuk sabar
Karena tak ada bahagia tanpa usaha
Karena cinta ini tak pernah akan padam rasanya
Kepada rintik hujan kusampaikan salam hangat
Kirimkan padanya di seberang sana
Biar ia merasakan
Hangat cinta yang kukirimkan padanya
Sekaligus dingin menusuk dari engkau,
Sang Rintik Hujan....
Monday, February 8, 2016
Mystory : Jangan Biarkan Aku Jatuh Cinta
Selamat malam sang rembulan
Selamat datang kegelapan malam
Aku disini masih tetap terkagum memandang ke langit luas
Di hamparan kegelapan bertabur bintang
Betapa kecilnya aku dibanding luasnya lautan langit.
Begitu pula kamu.
Aku kagum sekaligus heran...
Apa rencana semesta atas kita berdua ?
Mengapa dibalik semua kisah,
dan dibalik semua cerita
ada terselip namamu ?
Mengapa semesta berkehendak dan kita bertemu ?
Kepada langit malam
Kukatakan dengan jujur
Aku tersenyum gembira mengenalmu....
Andai hari itu tiada
Andai kaki ini tak menginjakkan tanah
tempat dimana kau berpijak pula
Aku yakin tak akan ada rasa, apalagi cinta.
Andai mata ini menyorotkan sinar ke hal lain
Andai mata ini tak tertuju
pada wajah dibalik mesin potret itu
Aku yakin tak akan ada rasa, apalagi cinta.
Di keheningan malam,
dan ditengah hembusan napas
Aku berkata dalam hati,
Aku bahagia disini
Bahagia dalam ketidakpastian yang indah.
Selama senyum masih ada di bibir ini,
Selama malam masih tetap berganti
ditemani wajah manis di balik kaos putih
Aku berjanji,
Takkan kuperbolehkan rasa apapun menghinggapi
Aku nyaman, aku bahagia
Dan aku lega...
Tuhan, tetaplah kau jaga indahnya keadaan ini.
Jangan Kau gantikan dengan hal duniawi yang belum pasti.
Rasa ingin yang ada di hati
Biarlah ia pergi, jika memang tak pantas disini
Rembulan,
Katakan pada sang fajar,
Apa yang kurasa dan kuingat malam ini.
Biar ia tahu rasa yang aku pendam setiap malamnya.
Biar aku ingat akan janji yang aku katakan.
Tapi katakan juga pada Tuhan,
ada terselip doa kecil untuknya,
bahagiakan dia disana
dan...
jangan biarkan aku jatuh cinta
padanya.
Selamat datang kegelapan malam
Aku disini masih tetap terkagum memandang ke langit luas
Di hamparan kegelapan bertabur bintang
Betapa kecilnya aku dibanding luasnya lautan langit.
Begitu pula kamu.
Aku kagum sekaligus heran...
Apa rencana semesta atas kita berdua ?
Mengapa dibalik semua kisah,
dan dibalik semua cerita
ada terselip namamu ?
Mengapa semesta berkehendak dan kita bertemu ?
Kepada langit malam
Kukatakan dengan jujur
Aku tersenyum gembira mengenalmu....
Andai hari itu tiada
Andai kaki ini tak menginjakkan tanah
tempat dimana kau berpijak pula
Aku yakin tak akan ada rasa, apalagi cinta.
Andai mata ini menyorotkan sinar ke hal lain
Andai mata ini tak tertuju
pada wajah dibalik mesin potret itu
Aku yakin tak akan ada rasa, apalagi cinta.
Di keheningan malam,
dan ditengah hembusan napas
Aku berkata dalam hati,
Aku bahagia disini
Bahagia dalam ketidakpastian yang indah.
Selama senyum masih ada di bibir ini,
Selama malam masih tetap berganti
ditemani wajah manis di balik kaos putih
Aku berjanji,
Takkan kuperbolehkan rasa apapun menghinggapi
Aku nyaman, aku bahagia
Dan aku lega...
Tuhan, tetaplah kau jaga indahnya keadaan ini.
Jangan Kau gantikan dengan hal duniawi yang belum pasti.
Rasa ingin yang ada di hati
Biarlah ia pergi, jika memang tak pantas disini
Rembulan,
Katakan pada sang fajar,
Apa yang kurasa dan kuingat malam ini.
Biar ia tahu rasa yang aku pendam setiap malamnya.
Biar aku ingat akan janji yang aku katakan.
Tapi katakan juga pada Tuhan,
ada terselip doa kecil untuknya,
bahagiakan dia disana
dan...
jangan biarkan aku jatuh cinta
padanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)